Just another WordPress.com weblog

LAPORAN PRATIKUM GENETIKA HEWAN


I.         PENDAHULUAN

 

Sejak jaman prasejarah, manusia telah mengenal prinsip-prinsip pewarisan berdasarkan pengalaman mereka sehari-hari. Varietas-varietas baru pada tumbuhan dan hewan yang kita jumpai sekarang ini merupakan hasil kerja mereka dengam menseleksi tumbuhan dan hewan dengan sifat-sifat khusus untuk digunakan sebagai induk dalam penyilangan. Setelah bertahun-tahun kemudian manusia berhasil mendapatkan varietas-varietas unggul dengan sifat khas yang mereka inginkan, seperti gandum berprotein tinggi, sapi dengan produktivitas daging yang tinggi, rasa buah yang manis dan besar-besar, dll. Hal ini merupakan salah satu bukti bahwa manusia telah memiliki pengetahuan mengenai prinsip-prinsip genetika, meskipun masih sederhana dan berdasarkan pengalaman semata (Campbell dan Mitchell, 2002).

Teori pertama tentang sistem pewarisan yang dapat diterima kebenarannya dikemukakan oleh Gregor Mendel pada tahun 1865. Teori ini diajukan berdasarkan penelitian persilangan berbagai varietas kacang kapri (Pisum sativum). Dalam percobaannya Mendel memilih tanaman yang memiliki sifat biologi yang mudah diamati. Berbagai alasan dan keuntungan menggunakan tanaman kapri yaitu, (a) Tanaman kapri tidak hanya memiliki bunga yang menarik, tetapi juga memiliki mahkota yang tersusun sehingga melindungi bunga kapri terhadap fertilisasi oleh serbuk sari dari bunga yang lain. Hasilnya, tiap bunga menyerbuk sendiri secara alami; (b) Penyerbukan silang dapat dilakukan secara akurat dan bebas, dapat dipilih mana tetua jantan dan betina yang diinginkan; (c) Mendel dapat mengumpulkan benih dari tanaman yang disilangkan, kemudian menumbuhkannya dan mengamati karakteristik (sifat) keturunannya (Tjan, 1995).

Banyak sifat yang dimiliki makhluk hidup yang menurun dari induk kepada keturunannya, sehingga sifat orang tua dapat muncul pada anaknya atau bahkan sifat-sifat tersebut muncul pada cucunya. Dahulu kala, ada anggapan bahwa penurunan sifat pada manusia penurunannya melalui darah. Namun anggapan itu keliru, terbukti walaupun seseorang menerima darah dari orang lain, sifat dari orang yang memberi darah tersebut tidak menurun kepada orang yang menerima darah tersebut. Tiap spesies memiliki ciri-ciri tertentu yang spesifik yang hampir sama dari generasi ke generasi, bahkan ciri ini ada sejak dulu kala. Misalnya hewan gajah mempunyai telinga yang lebar, mempunyai gading, tubuhnya besar, dan mempunyai belalai. Ciri gajah tersebut sudah ada sejak gajah purba. Jadi ada ciri-ciri atau sifat-sifat makhluk hidup yang diturunkan dari generasi ke generasi atau diturunkan dari induk kepada anaknya (Ganawati, 2009).

Mendel mempelajari beberapa pasang sifat pada tanaman kapri. Masing-masing sifat yang dipelajari adalah: tinggi tanaman, warna bunga, bentuk biji, dan lain-lain yang bersifat dominan dan resesif. Mula-mula Mendel mengamati dan menganalisis data untuk setiap sifat, dikenal dengan istilah monohibrid. Selain itu Mendel juga mengamati data kombinasi antar sifat, dua sifat (dihibrid), tiga sifat (trihibrid) dan banyak sifat (polihibrid). Hasil percobaannya ditulis dalam makalah yang berjudul Experiment in Plant Hybridization (Tjan,1995).

            Individu yang  memperlihatkan perubahan sifat (fenotip) akibat mutasi disbut mutan. Dalam kajian genetik  mutan bisa dibandingkan dengan individu yang tidak mengalami perubahan sifat (individu tipe liar atau wild type). Drosopila atau lalat buah berperan penting dalam beberapa pengujian genetika, seperti dalam pengujian hipotesis Mendel  II  mendel  II (Suryo, 1996).

Gen – gen yang terdapat pada kromosom yang sama menjadi terpisah, baru pertanma kali terlihat dengan persilangan antara individu bermata putih denagn sayap mini pada Drosophilla.Gen – gen tersebut terletak pada kromosom kelamin.Drosophila dapat mengalami difesiasi, dimana mempengaruhi keseimbangan genetic karena beberapa gen hilang sama sekali.Sifat mata sempit di tentukan oleh gen dominant yang terangkai.Dapat disimpulkan bahwa sebagian dari kromosom (termasuk lokus gen mata sempit) mengalami delasi, dan delasi ini dapat terjadi pada lalat betina tetapi tidak pada lalat jantan.Delasi menyebabkan hilangnya mata normal dapat memperlihatkan ekspesinya (Suryo, 1995).

            Untuk membandingkan morfologi mutan Drosophila melanogaster dapat digunakan Drosophila melanogaster  normal (WILD TYPE) sebagai pembanding. Pada lalat buah normal cirri-ciri morfologinya adalah sebagai berikut : mata majemuk bentuk bulat agak elips, warna merah, terdapat mata oceli pd bagian kepala, terdapat  sungut yg bercabang, kepala berbenetuk elips, thoraks berbulu-bulu dengan warna dasar putih, abdomen jumlah segmen lima, warna segmen garis hitam dan sayap warna tranparan panjang, posisi bermula dari thoraks (Borror dan Johson, 1993).

Persilangan monohibrid adalah persilangan dua individu dengan satu sifat beda. Persilangan rnonohibrid dibedakan menjadi dua macam, yaitu persilangan monohibrid dominan dan monohibrid intermediat (Suryo, 1995).

Persilangan dihibrid yaitu persilangan dengan dua sifat beda sangat berhubungan dengan hukum Mendel II yang berbunyi “independent assortment of genes”. Atau pengelompokan gen secara bebas. Persilangan dihibrid adalah persilangan antara dua individu sejenis yang melibatkan dua sifat beda, misalnya persilangan antara tanaman ercis berbiji bulat dan berwarna hijau dengan tanaman ercis berbiji kisut dan berwarna cokelat; padi berumur pendek dan berbulir sedikit dengan padi berumur panjang dan berbulir banyak. Mendel juga meneliti persilangan dihibrid pada kacang kapri. Mendel menyilangkan kacang kapri berbiji bulat dan berwarna kuning dengan tanaman kacang kapri berbiji kisut dan berwarna hijau. Ternyata semua F1, nya berbiji bulat dan berwarna kuning. Berarti biji bulat dan warna kuning merupakan sifat dominan. Selanjutnya. semua tanaman F, dibiarkan menyerbuk sendiri. Ternyata pada F2 dihasilkan 315 tanaman berbiji bulat dan berwarna kuning. 108 tanaman berbiji bulat dan berwarna hijau. 106 tanaman berbiji kisut dan berwarna kuning, serta 32 tanaman berbiji kisut dan berwarna hijau. Hasil penelitiannya mengehasilkan hukum Mendel II atau hukum asortasi atau hukum pengelompokan gen seceru bebas. Hukum ini menyatakan bahwa gen-gen dari kedua induk akan mengumpul dalam zigot, tetapi kemudian akan memisah lagi ke dalam gamet-gantet secara bebas (Suryo, 1996).

Hukum ini berlaku ketika pembentukan gamet dimana gen sealel secara bebas pergi ke masing-masing kutub ketika meiosis. Mendel menggunakan kacang ercis untuk dihibrid yang pada bijinya terdapat dua sifat beda, yaitu soal bentuk dan warna biji (Yatim, 1986).

Jumlah gen yang sebenarnya mengendalikan semua segi deferensiasi seksual tidak diketahui untuk eukariota yang manapun, tetapi pada kebanyakkan eukariota diploid gen-gen terbatas pada suatu pasangan kromosom, yaitu kromosom seks, biasanya disebut sebagai kromosom-kromosom X dan Y. Betina diberi istilah kelamin homogenetik dan yang jantan disebut heterogenetik, yang berarti bahwa sejauh mengenai kromosom seks. Betina hanya menghasilkan telur-telut  memawa X, sedangkan jantan menghasilkan sperma membawa X dan Y karena keturunan pada XX adalah betina dan keturunan berupa XY adalah jantan pewarisan kromosom X akan mengikuti pula, dimana jantan akan meneruskan kromosom X nya kepada keturunan betinanya, sedangkan betina akan menuturunkan kromosom X nya kepada keturunan jantan dan betinanya. Berlakulah bahwa  jantan akan selalu mewarisi kromosom X nya dari ibu karena bapaknya pasti telah menyumbang Y (Goodenough, 1984).

Gen-gen pada Drosophila melanogaster dan Drosophila simulans, dimana mutasi scarlet (st) dalam kromosom pada D. melanogaster, bila disatukan dari kromosom D. simulans yang memiliki scarlet (st/st) yang fenotipnya sama dengan mata scarlet homozigot masing-masing species. Sebaliknya suatu hybrid yang membawa scarlet dari suatu species dan scarlet (mutasi lain dalam dari mata) dari lalat yang lain sehingga genotipnya memiliki warna merah bata (normal) seperti lalat tipe liar (normal). Dengan mendeteksi berangkai (linkage) pada Drosophila normal yaitu adanya kenyataan bahwa peristiwa pindah silang tidak terjadi pada lalat jantan. Sebagai contoh uji silang mengenai gen-gen untuk dua macam warna mata ialah coklat (bw) dan merah padam atau scarlet (st) menunjukkan adanya pemilihan secara bebas pada lalat normal (Kimball, 1998).

Persilangan susunan sis (coupling) dan susunan trans (repulsion) sebagai dua aspek dari suatu peristiwa yang disebut tautan gen. Morgan menduga bahwa bagian kromosom homolog dapat saling bertukar pada saat berpasangan selama proses meiosis. Ini dapat menyebabkan terjadinya tipe rekombinan baru ( Crowder, 1990).

Pewarisan kromosom X tertentu dapat dihubungkan dengan pewarisan sifat yang berpautan seks, dengan kuat mendukung tesis bahwa gen-gen pada kromosom X bertanggung jawab untuk menimbulkan sifat ini. Gen-gen yang berpautan seks tidak hanya memisah tetapi juga memilih secara bebas dari gen-gen yang terdapat pada autosom (Goodenough, 1984).

            Determinasi seks merupakan penentuan jenis kelamin suatu organisme yang ditentukan oleh kromosom seks (gonosom). Untuk lalat buah dikenal satu pasang kromosom seks yaitu kromosom X dan kromosom Y. Individu jantan terjadi jika terdapat komposisi seks XY sedang betina jika komposisinya XX (Yatim, 1996).

Pautan seks merupakan suatu sifat yang diturunkan yang tergabung dalam gonosom. Sebagai contoh adalah lalat buah betina mata merah (dominant) dikawinkan dengan lalaty buah jantan mata putih (resesif). Maka F1 semuanya bermata merah tetapi pada F2 semua yang bermata putih adalah jantan. Hal ini menunjukkan bahwa sifat “berwarna putih” merupakan sifat yang terpaut pada kromosom Y. Mutasi merupakan perubahan gen dari bentuk aslinya, sedangkan individu yang mengalami mutasi disebut mutan, jenis-jenis mutasi terdiri dari mutasi kromosom merupakan proses perubahan susunan atau jumlah dari kromosom yang menyebabkan perubahan sifat individu lazim disebut aberasi dan yang kedua adalah mutasi gen yaitu perubahan gen dalam kromosom (letak dan sifat) yang menyebabkan perubahan sifat individu tanpa perubahan jumlah dan susunan kromosomnya lazim disebut mutasi saja (Dwijoseputro, 1977).

Tujuan dari praktikum genetika hewan ini adalah untuk memperkenalkan prosedur-prosedur dalam hewan terkait hokum-hukum hereditas dan mekanisme penurunan karakter genetika, khususnya pada Drosophila melanogaster.

II. PELAKSANAAN PRATIKUM

 

 

2.1. Waktu dan Tempat

Praktikum tentang genetika hewan ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 7 dan 14 Desember 2009 di Laboratorium Genetika dan Sitologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang.

2.2. Alat dan Bahan

Alat alat yang digunakan pada percobaan adalah panci, pengaduk, kompor, botol kultur dan alat tulis. Sedangkan  bahan yang digunakan adalah pisang (300 gr), tepung beras (150 gr), air (±800 ml), agar (10 gr) dan tagosep (5 ml) dan ragi. Objek yang dipakai adalah Drosophila melanogaster.

2.3. Cara kerja

2.3.1. Pembuatan media

300 gr pisang yang telah dilumatkan, 150 gr tepung beras dilarutkan dalam 400 ml air dan agar-agar dimasukkan dengan 400 ml air (agar dimasak atau dipanaskan). Ketiga bahan dicampur dalam satu wadah dan dipanaskan sampai meletup-letup sembari diaduk. Kemudian ditambahkan tagosep. Selanjutnya dinginkan dan dimasukkan medium dalam plastik steril lalu disimpan dalam lemari pendingin hingga siap digunakan.

2.3.2. Dilakukan persilangan Drosophila melanogaster

a)      Normal x curved

b)      Curly eyemising x normal

c)      Sephia curly x normal

d)     Taxi x normal

e)      Curved eyemising x normal

f)       Vestigialwing x normal

g)      Black x normal

h)      Black x normal

i)        Vestigialwing x eyemising

j)        Taxi x sephia

Ditentukan jenis persilangan dan F1 serta F2 dari persilangan di atas.

2.3.3. Analisa Chi-Square Persilangan Monohibrid dan Dihibrid

Persilangan monohibrid dapat dimisalkan antara Drosophila melanogaster jantan normal disilangkan dengan Drosophila melanogaster betina sayap melengkung (Cu) didapatkan F1 normal kemudian dikawinkan sesamanya dan dianalisis chi-square pada keturunan F2 nya. Persilangan dihibrid dapat dimisalkan Drosophila melanogaster jantan normal disilangkan dengan Drosophila melanogaster betina sayap melengkung ke atas (Cy) mata buta (eym) didapatkan F1 normal kemudian dikawinkan sesamanya dan dianalisis chi-square pada keturunan F2 nya.

2.3.4.  Analisa 2 Titik Linkage

Pertama disiapkan botol pengamatan dan medium. Selanjutnya Drosophila melanogaster dimasukkan ke dalam botol pengamatan. Setiap hari diamati individu yang terbentuk dengan ciri-ciri badannya tidak berwarna hitam tapi masih abu-abu. Jika ada, individu virgin dipindahkan ke botol baru. Diamati apakah individu tersebut tidak menghasilkan individu baru. Jika tidak, Drosophila melanogaster dikawinkan dengan 5 jantan lainnya. Dan diamati fenotip yang terbentuk dari hasil F2.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Persilangan

Banyak sifat yang dimiliki makhluk hidup yang menurun dari induk kepada keturunannya, sehingga sifat orang tua dapat muncul pada anaknya atau bahkan sifat-sifat tersebut muncul pada cucunya. Tiap spesies memiliki ciri-ciri tertentu yang spesifik yang hampir sama dari generasi ke generasi, bahkan ciri ini ada sejak dulu kala. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hasil persilangan berikut :

a) Normal disilangkan dengan curved

P     Cu       X        +                    

G     Cu                   +

        Cu                   +

F1               +          (normal)

                   Cu

F2 :             F1        X         F1

G     +                     +

       
       
 
       

        Cu                   Cu

F2   +          +          Cu       Cu

        +         Cu        +         Cu

                  Normal              Cu

Ho   3 : 1 (normal : curved)

Persilangan di atas merupakan persilangan monohibrid karena persilangan tersebut menggunakan atau melibatkan satu sifat beda. Persilangan antara normal dengan curved menghasilkan F1 normal. Hal ini disebabkan karena normal dominan terhadap curved. Meskipun pada F1 normal tersebut ada gamet curved (cu). Jadi F1 bersifat karier karena mengandung gamet cu. Akibatnya tidak tertutup kemungkinan bahwa pada F2 nya ada anak yang bersifat curved. Mendel menyimpulkan adanya hukum dominan, yaitu: jika penyilangan dua organism jantan dan betina homozigot dengan pasangan yang kontras, hanya akan muncul salah satu sifat dari tetuanya pada keturunan pertama-nya ( F1), sifat demikian disebut sifat dominan (Ganawati, 2009).

            Pada F2 terbukti bahwa ada anak yang memiliki fenotip curved. Jumlah perbandingan rasio fenotipnya adalah 3 normal : 1 curved. Curved ini hasil dari sifat karier F1 curved yang dibawanya, F1 telah menjadi induk bagi F2, maka sifat tersebut akan diwariskan pada anaknya (F2) walaupun tidak semua anaknya curved, masih ada yang bersifat normal.

            Curved merupakan hasil mutasi dari sayap normal tipe panjang dan lurus. Mutasi didefenisikan sebagai pemutusan atau perubahan yang terjadi pada molekul DNA. Tipe sayap curved adalah tipe sayap yang melengkung. Dengan perubahan tipe sayap ini akan berakibat pada Drosophila melanogaster tersebut. Drosophila akan mengalami kesulitan dalam kegiatan terbang. Mutasi curved (cu) terjadi karena adanya kecacatan pada kromosom nomor 3, lokus 50,0. Pada tipe ini gen curved merupakan gen dominan yang memunculkan bentuk sayap (Borror dan Johnson, 1993).

b) Curly eyemising disilangkan dengan normal

P     cy eym               X               +

 
   

G     cy eym                                 +

        cy eym                                 +

F1                           +       + 

                                cy eym

                                 normal

        F1                    X                     F1

G     +       +                                  +       +

        cy eym                                 cy eym

G     +            +       +        cy

        +          cy        eym    eym

HO =  9 normal : 3 curly : 3 eyemising : 1 curly eyemising

F2

 

++

cy eym

+ eym

cy +

++

+   +

+   +

+       +

cy  eym

+       +

+   eym

+       +

+   eym

cy eym

cy      +

eym   +

cy  eym

+   eym

cy  eym

+   eym

cy  eym

cy    +

+ eym

+       +

+   eym  

+   eym

cy  eym

+   eym

+   eym

+     +

cy  eym

cy +

+       +

cy     +  

cy    +

cy  eym

cy     +

+   eym

+     +

cy  eym

Persilangan di atas merupakan persilangan dihibrid karena persilangan tersebut menggunakan atau melibatkan dua sifat beda. Persilangan antara curly eyemising dengan normal menghasilkan F1 yaitu 9 normal, 3 curly, 3 eyemising dan 1 curly eyemising. F2 tersebut diperoleh dari F1 yang berfenotip normal tetapi bersifat karier. Maksudnya tidak menutup kemungkinan jika F2nya bersifat selain normal karena F1 memiliki gamet curly dan eyemising.

Mutasi tipe curly (cy) terjadi karena kecacatan pada kromosom nomor 3, lokus 50,0. Gen Curly merupakan gen dominan yang memunculkan bentuk sayap melengkung ke atas. Mutasi juga dapat terjadi pada fenotip atau penampakan bentuk mata. Ditemukan Drosophila melanogaster yang tidak memiliki mata atau hanya berupa titik saja yang disebut Eym. Kromosom nomor 3, lokus 67,9 mengalami kerusakan yang berakibat pada keabnormalan gen mata abesen yang memberikan perintah pada sel yang ada di larva untuk memunculkan mata. Tipe ini memiliki mata tetapi buta (Borror dan Johnson, 1993).

Apabila dominansi nampak penuh maka perbandingan fenotip pada F2 adalah 9:3:3:1. Pada semidominansi (artinya dominansi tidak nampak penuh, ada warna yang teritermedier ) maka hasil perkawinan dihibrid menghasilkan keturunan dengan perbandingan 1:2:1:2:4:2:1:2:1. Misalnya sifat curved adalah resesif ditentukan oleh gen cu. Sifat normal adalah dominant ( ditentukan oleh gen +). Sepertihalnya tumbuh-tumbuhan dan hewan, maka F2 akan memperlihatkan perbandingan 9:3:3:1. Namun dalam kenyataanya akan sulit bahkan tidak mungkin menemukan perbandingan itu, mengingat jumlah anak dalam satu keluarga semakin sedikit (Erik, 2009).

c) Sephia curly disilangkan dengan normal

P     se cy                  X               +

 
   

G     se cy                                   +

         se cy                                   +

F1                           +       +     (normal)

                                se    cy

        F1                    X                     F1

G     +       +                                  +       +

        cy eym                                 cy eym

F2   +            +       +            se     

        +           se        cy           cy

HO =  9 normal : 3 sephia : 3 curly : 1 sephia curly

F2

 

++

cy eym

+ eym

cy +

++

+   +

+   +

+       +

se    cy

+       +

+   cy

+       +

+     se

cy eym

se      +

cy     +

se    cy

+     cy

se    cy

+     cy

se   cy

se    +

+ eym

+       +

+     cy  

+     cy

se    cy

+     cy

+     cy

+     +

se    cy

cy +

+       +

se     +  

se    +

se    cy

se     +

+     cy

+     +

se   cy

Persilangan di atas merupakan persilangan dihibrid karena persilangan tersebut menggunakan atau melibatkan dua sifat beda. Persilangan sephia curly dengan normal menghasilkan F1 yang normal tetapi karier. Bila F1 disilangkan dengan sesamanya maka menghasilkan F2 yang memiliki rasio fenotip 9 normal, 3 sephia, 3 curly dan 1 sephia curly. Hal ini disebabkan karena F1 normal yang mengandung genotip sephia curly tetapi karena normal lebih dominan maka sifat yang nampak (fenotip) tetap normal. Fenotip normal tetapi genoip karier diperoleh dari parental, karena parental berasal sephia curly yang disilangkan dengan normal. Anak yang didapatkan membawa setengah sifat ayah dan setengah lagi sifat ibu.

Lalat buah (Drosophila melanogaster) normal memiliki warna mata merah. Namun pada mutasi warna mata lalat tida merah. Beberapa warna mata mutan yang diamati yaitu white, clot, dan sephia. Pada mutan white mengalami mutasi pada kkromosom nomor 1, lobus 1,5. Pigmen merah yang seharusnya dihasilkan sebagai warna pada faset mata lalat tidak dihasilkan. Sehingga yang terjadi adalah penyimpangan gen white yang memberikan warna putih pada faset mata. Sementara pada mutan tipe clot (cl) warna mata adalah coklat akibat mutasi pada kromosom 2, lokus 16,5. Mutasi pada kromosom nomor 3, lokus 100,7 pada Drosophila mengakibatkan mata berwarna merah terang atau disebut juga tipe claret. Mutan tipe sephia mengalami kecacatan pada kromosom nomor 3, lokus 26,0 dan mengakibatkan lalat kekurangan enzim sintase PDA yang disebabkan adanya mutasi pada struktur gen dari DNA. Mutasi dapat diturunkan pada keturunan-keturunan dari lalat sephia sendiri. Kecacatan ini mengakibatkan lalat bermata coklat tua kehitaman (Borror dan Johnson, 1993).

.

d) Taxi  disilangkan dengan normal

P     tx         X        +                    

G     tx                    +

        tx                     +

F1               +          (normal)

                   tx

F2 :             F1        X         F1

G     +                      +

       
       
 
       

        tx                     tx

F2   +          +          tx         tx

        +          tx         +         tx

                 Normal :  taxi

Ho               3 : 1 (normal : taxi)

Persilangan di atas merupakan persilangan monohibrid karena persilangan tersebut menggunakan atau melibatkan satu sifat beda. Ilmu yang mempelajari tentang sifat-sifat yang diwariskan, cara sifat diwariskan, dan variasinya yang terjadi pada keturunannya disebut ilmu keturunan atau genetika. Setiap individu hasil persilangan mengandung gamet dari kedua induknya (bersifat diploid = 2n), misalnya induk jantan berwarna merah (MM) dan betina (mm) maka keturunannya memiliki gen Mm. Pada proses pembentukan gamet, gen berpisah secara acak (Hukum Segregasi secara bebas) atau dikenal sebagai Hukum Mendel I. Jadi Mm akan berpisah menjadi dua gamet, yaitu M dan m. Pada proses pembuahan (fertilisasi) gamet akan bertemu secara acak pula (asortasi) atau dikenal sebagai Hukum Mendel II. Dalam kasus di atas gamet M dapat membuahi gamet lainnya, misalnya M atau dapat juga m (Ganawati, 2009).

            Dibuktikan hasil fenotip F2 yang menghasilkan 3 normal dan 1 taxi. Mutan bentuk sayap taxi adalah sayap yang merentang 75 derajat dari sumbu tubuh. Hal ini disebabkan karena kecacatan pada kromosom nomor 3 lokus 91,0 yang memunculkan fenotip bentuk sayap merentang. Bentuk sayap ini tidak terlalu beda dengan sayap normal. Syap normal panjang transparan dan bermula dari thoraks (Suryo, 1996).

e) curved eyemising disilangkan dengan normal

P     cu eym               X               +

 
   

G     cu  eym                                +

        cu eym                                 +

F1                           +       + 

                               cu   eym

                                normal

        F1                    X                     F1

G     +       +                                  +       +

         cu eym                                 cu eym

F2   +            +       +            cu   

        +           cu       eym       eym

HO =  9 normal : 3 curved : 3 eyemising : 1 curved eyemising

     F2

 

++

cu eym

+ eym

cu +

++

+   +

+   +

+       +

cu   eym

+       +

+    eym

+       +

+     cu

cu eym

+     +

cu  eym

cu  eym

cu  eym

+    eym

cu  eym

cu   +

cu  eym

+ eym

+       +

+    eym  

+   eym

cu  eym

+   eym

+   eym

+     +

cu  eym

cu +

+       +

cu     +  

cu    +

cu   eym

+     +

eym cu

+     +

cu   cu

Persilangan ini merupakan persilangan dihibrid karena melibatkan dua sifat beda. Persilangan eyemising dengan normal menghasilkan F1 normal karier dan F2 nya memiliki atau menghasilkan empat macam fenotip (9 normal,3 curver, 3 eyemising dan 1 curved eyemising).

            Mutasi curved terjadi karena kecacatan pada kromosom nomor 3, lokus 50,0. Pada tipe ini gen curved merupakan gen dominan yang memunculkan bentuk sayap melengkung ke atas. Mutasi bentuk mata yang tidak memiliki mata atau hanya berupa titik disebut eym.  Kedua sifat beda ini digabungkan dalam satu species kemudian disilangkan dengan yang normal. Maka F1 maupun F2 akan mewarisi separuh dari sifat ayah dan separuh dari sifat ibu (Imania, 2008).

f) vestigialwing disilangkan dengan normal

P     vg        X        +                    

G     vg                     +

        vg                    +

F1               +          (normal)

                   vg

F2 :             F1        X         F1

G     +                      +

       
       
 
       

       vg                     vg

F2   +          +          vg        vg

        +          vg        +         vg

                 normal                vg

Ho               3 : 1 (normal : vg)

Persilangan ini merupakan persilangan mohibrid karena melibatkan satu sifat beda. Persilangan vestigialwing dengan normal menghasilkan F1 normal. Normal yang karier, normal yang mengandung gamet vg pada fenotipnya. Sifat karier vg ini akan diwariskan keturunan berikutnya. Dapat dilihat dari persilangan F1 dengan F1. F2 yang dihasilkan adalah 3 normal dan 1 vestigialwing. Artinya 3 normal, hanya 1 yang benar-benar normal sedangkan 2nya lagi karier (gametnya setengah normal dan setengah vestigialwing). Dan hanya satu pula yang benar-benar vestigialwing.

            Vestigialwing merupakan mutasi sayap normal yang berakibat sayap menyusup atau memendek dari sayap yang biasa (normal). Kita tahu bahwa sayap normal transparan panjang. Perubahan pada molekul DNA ini mengakibatkan Drosophila melanogaster mengalami kesulitan dalam kegaitan terbangnya (Imania, 2008).

g) black disilangkan dengan normal

P     b         X        +                    

G      b                      +

         b                     +

F1               +          (normal)

                    b

F2 :             F1        X         F1

G     +                      +

       
       
 
       

        b                      b

F2   +          +            b          b

        +          b          +         b

                    normal             b

Ho                   3 : 1

Persilangan ini merupakan persilangan monohibrid karena melibatkan satu sifat beda. Hasil persilangan ini sama saj dengan hasil persilangan monohybrid sebelumnya. F1 yangnormal namun karier sehingga jika F1 disilangkan dengan sesamanya akan menghasilkan perbandingan yang sama pula yaitu 3 normal dan 1 black. Penyebab persamaan perbandingan fenotip ini adalah dalam kasus ini normal bersifat dominan dibandingkan black.

Dari persilangan dengan satu sifat beda (monohibrid), Mendel menyusun suatu

postulat yang kemudian dikenal dengan hukum segregasi. Hukum segregasi disebut juga hukum pemisahan faktor/gen yang sealel. Dalam hal ini kedua alel untuk suatu sifat

tertentu dikemas ke dalam gamet yang terpisah. Selengkapnya hukum tersebut berbunyai: ” pada hibrid F1 yang heterosigot yang memiliki sifat kontras (dominan dan resesif), gen-gennya berkumpul bersama-sama tetapi keduanya tidak bercampur dan keduanya akan memisah pada saat pembentukan gamet ” (Elrod  dan Stansfield, 2007).

            Perbedaan warna tubuh merupakan salah satu akibat dari mutasi pada lalat buah. Warna tubuh lalat buah normal adalah cokelat muda. Pada hasil praktikum, orang juga mendapat dua macam warna tubuh yaitu ebony dan black. Warna tubuh tipe ebony muncul karena adanya kelainan pada gen ebony, gen yang memeberika warna cokelat mengakibatkan lalat memiliki warna tubuh yang hitam mengkilat. Sedangkan mutan black (b) diakibatkan pada kromosom nomor 2, lokus 48,5 yang menyebabkan keabnormalan warna badan, kaki dan urat syaraf yang hitam namun tidak mengkilat (Borror dan Johnson, 1993).

h) black disilangkan dengan sephia

P         b                   X               se

 
   

G     b       +                               +  se

        b       +                              +  se

F1                           +       + 

                                b      se

                                normal

        F1                    X                     F1

G     b      +                                   b       +

        +      se                                 +       se

F2   +            b       +            b   

        +           +         se            se

HO =  9 normal : 3 black : 3 sephia : 1 black sephia

     F2

 

++

b  se

+  b

se  +

++

+   +

+   +

+       +

b      se

+       +

+     b

+       +

+     se

b  se

+     +

b     se

b      se

b      se

+     b

b     se

se    +

b     se

+  b

+       +

+      b  

+     b

b     se

+      b

+      b

+     +

b     se

se +

+       +

se     +  

se    +

se    b

+     +

se    b

+     +

se    se

Persilangan ini merupakan persilangan dihibrid karena melibatkan dua sifat beda. Persilangan antara black dan sephia merupakan persilangan dihibrid. Dimana black merupakan warna tubuh disilangkan dengan sephia merupakan warna mata. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa mutan black diakibatkan oleh kerusakan pada kromosom nomor 2 lokus 48,5 yang menyebabkan keabnormalan warna badan, kaki dan urat syaraf yang hitam namun tidak mengkilat (Borror dan Johnson, 1993).

            Sedangkan sephia berhubungan dengan mata. Mutan tipe memiliki kecacatan pada kromosom nomor 3, lokus 26,0 dan menyebabkan Drosophila kekurangan enzim sintase PDA yang disebabkan adanya mutasi pada struktur gen dan DNA sintase (Borror dan Johnson, 1993).

Wildan yatim, dalam bukunya yang berjudul genetika berpendapat bahwa sesungguhnya ratio fenotip F2 3 : 1 hanya merupakan perhitungan secara teoritis ratio ini diperoleh dari ratio genotipnya. Sebetulnya dalam kenyataan sehari-hari, ratio fenotip yang didapat tidaklah persis demikian. Kalau umpamanya spesies F2 yang dihitung adalah 1000 ekor, maka tidak akan selalu persis bahwa yang normal 750 ekor dan yang ebony 250 ekor. Makin dekat nilai ratio kenyataan, yang disebut o (observation) terhadap ratio teoritis, yang disebut e (expected), makin sempurna data yang dipakai, berarti makin bagus pernyataan fenotipnya. Kalau perbandingan o/e mendekati angka satu berarti data yang didapat makin bagus, dan pernyataan fenotip tentang karakter yang diselidiki mendekati sempurna. Akan tetapi, jika o/e menjauhi 1, data itu buruk dan pernyataan fenotip tentang karakter yang diselidiki berarti dipengaruhi oleh suatu faktor lain.

i) vestigialwing disilangkan dengan eyemising

P             vg                  X               eym

 
   

G         vg      +                              +     eym

            vg     +                               +     eym

F1                                vg     + 

                        +    eym

                        normal

            F1                    X                     F1

G         vg       +                                vg       +

+    eym                               +    eym

F2        +          vg      +            vg   

            +          +          eym      eym

HO =  9 normal : 3 vestigialwing : 3 eyemising : 1 vestigialwing eyemising

F2

 

++

 vg  eym

+  vg

eym  +

++

+   +

+   +

+       +

vg eym

+       +

+     vg

+       +

+   eym

vg eym

+     +

vg eym

vg eym

vg eym

+     vg

vg eym

eym    +

vg  eym

+  vg

+       +

+     vg  

+     vg

vg eym

+      vg

+      vg

+     +

vg  eym

eym +

+       +

eym     +  

eym   +

vg  eym

+     +

vg eym

+       +

eymeym

Persilangan ini merupakan persilangan dihibrid karena melibatkan dua sifat beda. Mendel menyilangkan kacang kapri berbiji bulat dan berwarna kuning dengan tanaman kacang kapri berbiji kisut dan berwarna hijau. Ternyata semua F1 normal juga. Hasil ini sama dengan persilangan pada Drosophila melanogaster. Ternyata pada F2 dihasilkan perbandingan 9 berbiji bulat dan berwarna kuning, 3 berbiji bulat dan berwarna hijau, 3 berbiji kisut dan berwarna kuning, serta 1 tanaman berbiji kisut dan berwarna hijau. Hasil penelitiannya menghasilkan hukum Mendel II atau hukum asortasi atau hukum pengelompokan gen secera bebas. Hukum ini menyatakan bahwa gen-gen dari kedua induk akan mengumpul dalam zigot, tetapi kemudian akan memisah lagi ke dalam gamet-gantet secara bebas (Ganawati, 2009).

Persilangan vestigilawing dengan eyemising, pada prinsipnya sama dengan persilangan sebelumnya. Persilangan ini melibatkan dua sifat beda maka disebut persilangan dihibrid. Sifat yang disilangkan adalah vestigialwing (sayap menyusup) dengan eyemising (mata buta). Pada saat terbang Drosophila yang bertipe vestigislwing akan mengalami kesulitan. Eyemising merupakan mata buta atau tidak memiliki mata, mata berupa titik saja. Kromosom nomor 3, lokus 67,9 mengalami kerusakan yang  berakibat pada keabnormalan gen mata abesen (Borror dan Johnson, 1993).

j) taxi disilangkan dengan sephia

P          tx                   X                 se

 
   

G      tx      +                               +         se

         tx     +                                +        se

F1                             tx      +     (normal)

                                 +       se

         F1                    X                     F1

G      tx      +                                  tx       +

          +    se                                  +      se

F2     +            +       tx            tx   

         +           se        +            se

HO =  9 normal : 3 taxi : 3 sephia : 1 taxi sephia

   F2

 

++

 Tx  se

tx+

+se

++

+   +

+   +

+       +

tx     se

+       +

+     tx

+       +

+     se

      tx    se

+     +

tx    se

tx    se

tx    se

+     tx

tx    se

se     +

tx      se

+  tx

+       +

+     tx 

+     tx

tx    se

+      tx

+      tx

+     +

se    tx

se +

+       +

se     +  

se   +

tx      se

+     +

tx    se

+       +

se      se

Persilangan ini merupakan persilangan dihibrid karena melibatkan dua sifat beda. Persilangan taxi dengan sephia menghasilkan F1 normal yang karier. F2 nya dapat dilihat dari hasil fenotip pada tabel 9 normal. 3 taxi, 3 sephia dan 1 taxi sephia. Fenotip taxi dan sephia pada parental masih memiliki genotip atau gamet normal (++) karena itu pada F2 nya terdapat hasil pada anaknya yang normal. (Borror dan Johnson, 1993).

Dari persilangan dengan dua sifat beda (dihibrid) atau lebih, Mendel menyusun suatu postulat yang kemudian dikenal sebagai hukum berpasangan secara bebas. Hukum

ini menjelaskan bahwa pada pembastaran dua induk yang memiliki dua macam sifat beda atau lebih, penurunan satu pasang gen bebas memilih dari pasangan gen lainnya, atau tiap-tiap pasangan alel akan memisah ke dalam gamet secara bebas. Ilustrasi lengkap pengujian dua hipotesis pada persilangan dihibrid yang selanjutnya menghasilkan hukum Mendel III (Hukum berpasangan secara bebas/ Independent assortment of gens). Hubungan tiga postulat ( Hukum Memndel I, II, dan III) dengan letak gen pada kromosom suatu homolog dan tingkah lakunya selama meiosis (Elrod  dan Stansfield, 2007).

3.3.  Analisa Dua Titik Linkage

3.3.1.               ♀ mutan ganda            x         ♂ normal

                        b        Cu                                 +       +

                        F1                       +             +

                                                   b           cu

            Normal  ♀ virgin 5 pasang                    x                    stockman ♂

                 +        +                                                                   b          Cu

      b      Cu                                                                 b          Cu

   Gamet    b   Cu    +    +      b     +    + Cu                            b          Cu

 
   

            F2                                                    b       Cu                                                                                                                     

       b       Cu

       +        +    

       b       Cu

       b        +    

 
   

       b       Cu                                      

                                                                   +       Cu

 
   

                                                                   b        Cu

Dari perkawinan Drosophila melanogaster warna tubuh hitam sayap melengkung dengan Drosophila melanogaster jantan normal menghasilkan keturunan F1 semuanya normal yang homozigot resesif kemudian Drosophila melanogaster  betina disilangkan dengan jantan stockman maka didapatkan keturunan F2 nya rasio 1 : 1 jantan dan normal. Hal ini dapat dijelaskan bahwa adanya gen bersama alel yang terletak pada sepasang kromosom yang homolog itu disebut satu rangkaian (linkage = pautan) (Yatim, 1996).

            Penemuan Morgan terhadap Drosophila melanogaster menunjukkan bahwa gen-gen bukan terletak pada kromosom yang berbeda, tapi pada kromosom yang sama. Artinya mereka itu berangkai (Kimball, 1998).

3.3.2. ♀ mutan ganda          x              ♂ normal

                 b        dp                                   +         +

F1                         +        +

 
   

                                    b           dp                                                                                          

            Normal  ♀ virgin 5 pasang                          x              stockman ♂

                 +           +                                                                            b        dp

     b          dp                                                                           b        dp

Gamet   b      dp     +        +    b        +   +       dp                                b         dp                                            

            F2                                                         b         dp

                                                                         b         dp

                                                                         +         +

   
   
 
   

                                                                         b         dp

                                                                         b         +

                                                                         b         dp

                                                                         +         dp

                                                                         b         dp

Dari persilangan  antara Drosophila melanogaster betina mutan ganda warna tubuh hitam sayap pendek dengan Drosophila melanogaster jantan normal menghasilkan keturunan F1 nya normal. Dan perkawinan F1 betina normal virgin disilang dengan jantan stockman maka didapatkan F2  dengan rasionya 1 : 1 jantan dan betina. Ini suatu tanda bahwa jika sifat warna tubuh hitam sayap pendek itu ditentukan oleh gen khusus, maka gen itu bersifat resesif.

            Pada kromosom mempunyai letak yang sama, ketika terjadi meosis kedua gen tidak berpisah. Sebab gen yang berpisah waktu meosis itu hanya kromosom sehomolog lalu diiringi dengan pemisahan kromatid dan 1 kromosom. Gen-gen itu sendiri pada satu kromosom itu tidak berpisah (Yatim, 1996).

            Berarti kalau kedua gen berangkai macam gamet yang terbentuk hanya 2 sedang kalau tak berangkai, pada kromosom berbeda macam gamet itu 4 dan rationya 1 : 1 : 1 : 1 (sama banyak semuanya) (Kimball, 1998).

3.3.3. ♀ mutan ganda              x                     ♂ normal

                             Se    ebony                                     +           +

F1                                           +            +                                                                                                     

   Se        ebony                                                                                  

            Normal  ♀ virgin 5 pasang                             x           stockman ♂

       +            +                                                                 Se         ebony

       Se      ebony                                                        Se           ebony          

    Gamet    Se   ebony    +   +    Se    +   +   ebony                Se          ebony

            F2                                                               Se        ebony

 
   

                                                                              Se        ebony

                                                                              +               +

                                                                              Se        ebony

                                                                              Se             +

 
   

                                                                              Se        ebony

                                                                              +          ebony

   
   
 
   

                                                                              Se       ebony

Dalam persilangan antara Drosophila melanogaster betina mutyan ganda dengan Drosophila melanogaster jantan normal menghasilkan keturunan F1 yang semuanya normal. Dan kemudian keturunan F1 Drosophila melanogaster betina normal virgin dikawinkan dengan Drosophila melanogaster jantan stockman menghasilkan keturunan F2 dengan perbandingan 3 normal : 1 warna sephia sayap ebony.

            Jika gen pada suatu kromatida dapat berpisah yang satu dari yang lain akibat warna, atau karena gen-gen itu letaknya pada kromosom yang tidak homolog, maka pemisahan semacam itu disebut pemisahan bebas (free Assortment atau memendel bebas). Sudah tentu gen-gen dari kromosom yang tidak homolog boleh dikatakan selalu berpisah secara bebas (Dwijoseputro, 1977).

            Jika dua atau beberapa gen pada suatu kromatida letaknya berdekatan sekali, sehingga kiasma yang kecil sekalipun tidak memungkinkan pisahnya gen-gen tersebut, maka gen-gen dikatakan bergabung (Linkage) (Suryo, 1998).

3.3.4. ♀ mutan ganda              x                     ♂ normal

                         forked       white                                +          +

F1                                               +           +

     Forked  white

            Normal  ♀ virgin 5 pasang                              x          stockman ♂

               Forked white                                                            forked   white

     
   
 
   

                +             +                                                               forked  white

Gamet    forked  white             +           +                                 Forked    white

                                                           

  Forked   +                 +        white

                                                                                        Forked          white

F2                                                        

                                                                  Forked         white

                                                                      +                  +

 
   

                                                                      +                  +

                                                                  Forked             +

   
   
 
   

                                                                  Forked         white

                                                                      +              white

                                                                  Forked         white

Dalam perkawinan Drosophila melanogaster betina mutan ganda dengan Drosophila melanogaster jantan normal maka didapatkan hasil keturunan F1 semuanya normal. Dan kemudian dikawinkan keturunan F1 Drosophila melanogaster betina normal virgin maka didapatkan hasil keturunan F2 nya 3 normal : 1 forked mata putih.

            Kromosom-kromosom (X dan Y) sering kali tidak sebanding dalam hal ukuran, bentuk dan kualitas kualitas pewarnaan. Fakta bahwa kedua kromosom itu berpasangan saat meosis merupakan bahwa indikasi kromosom-kromosom itu mengandung setidaknya sejumlah pseudoautosomal homolog. Gen-gen pada segmen pseudoautosomal disebut tertaut seks tidak sempurna atau tertaut seks sebahagian dan bisa berekombinasi melalui pindah silang pada kedua jenis kelamin, mirip dengan yang dilakukan lokus-lokus gen pada autosom-autosom yang homolog. Gen-gen pada segmen non homolog pada kromosom X disebut tertaut seks sempurna (Elrod, 2007).

3.2 Analisa Chi-Square

3.2.1 Persilangan Monohibrid

            ♀ normal         x          ♂ curved

                   +                                   Cu

            F1                     +

 
   

                                    Cu

                                    +                                           +

                                                              x                   

                                    Cu                                       Cu

            F2                   Cu              Cu               +                +  

               
               

                                  Cu              +                Cu               +

                                            3 normal   :   1 curved

Ho = 3 : 1

F

O

E

O – E

(O – E)2/ E

N

65

¾ x 100 = 75

65 – 75 = -10

(10)2/75  = 1,3

Cu

35

¼ x 100 = 25

35 – 25 = – 10

(-10)2/25 = 4

100

                  100

                       0

                  5,3

Db = n -1

      = 2 – 1 = 1

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui X2 hitung = 5,33 sedangkan X2 tabelnya 3,8, maka dapat disimpulkan bahwa X2 tabel lebih kecil dari X2 hitung. Hal ini membuat Ho ditolak.

            Persilangan monohibrid adalah persilangan antar dua spesies yang sama dengan satu sifat beda. Persilangan monohIbrid ini sangat berkaitan dengan hukum Mendel I atau yang disebut dengan hukum segresi. Hukum ini berbunyi, “Pada pembentukan gamet untuk gen yang merupakan pasangan akan disegresikan kedalam dua anakan.” Hukum Mendel I berlaku pada gametogenesis F1 x F1 itu memiliki genotif heterozigot. Gen yang terletak dalam lokus yang sama pada kromosom, pada waktu gametogenesis gen sealel akan terpisah, masing-masing pergi ke satu gamet (Yatim,1986).

3.2.2 Persilangan Dihibrid

            ♀ Curly Eye Missing         x        ♂ normal

Gamet               Cy  Eym                            +      +

            F1                                     +      +                                             

   
   
 
   

                                                  Cy   Eym

                        F1                     x                     F1

                    +        +                                    +      +

                   Cy    Eym                                Cy   Eym

Gamet                                Cy    Eym             Cy        +

         +       +                +      Eym

Tabel Punnet’s

 

Cy    Eym

+       +

Cy        +

+      Eym

Cy    Eym

Cy    Eym

 

 
   

 

Cy    Eym

+       +

 

 
   

 

Cy    Eym

 

Cy        +

 

 
   

 

Cy    Eym

 

 

 

 
   

 

Cy    Eym

 

+       +

Cy    Eym

 

 
   

 

+       +

+       +

 

   
   
 
   

 

+       +

Cy        +

 

   
   
 
   

 

+       +

+      Eym

 

   
   
 
   

 

+       +

Cy        +

Cy    Eym

 

 
   

 

Cy        +

+       +

 

 
   

 

Cy        +

Cy        +

 

 
   

 

Cy        +

+      Eym

 

 
   

 

Cy        +

     +      Eym

Cy    Eym

 

   
   
 
   

 

+      Eym

+       +

 

   
   
 
   

 

+      Eym

Cy        +

 

       
     
 
   

 

+      Eym

+      Eym

 

   
   
 
   

 

+      Eym

Normal                        :           9          Eye missing                 :           3

Curly                           :           3          Curly Eye missing       :           1

Ho = 9 : 3 :  3 : 3 : 1

F

O

E

O – E

(O – E)2/ E

N

65

9/16 x 160 = 90

65 – 90 = -25

(-25)2/ 90 = 6,94

Cy   +

45

3/16 x 160 = 30

45 – 30 =  15

(15)2/ 30  = 7.5

+   Eym

40

3/16 x 160 = 30

40 – 30 =  10

(10)2/ 30  = 3,33

Cy   Eym

10

1/16 x 160 = 10

10 – 10 =   0

0

160

                     160

                  0

                 17,77

 

Db = n – 1

      = 4 – 1 = 3

X2 tabel = 7,81

Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa X2 hitung = 17,77 sedangkan X2 tabel = 7,81. Dengan demikian dapat disimpulkan X2 tabel lebih besar daripada X2 hitung dan ini menyebabkan Ho ditolak.

Persilangan dihibrid yaitu persilangan dengan dua sifat beda sangat berhubungan dengan hukum Mendel II yang berbunyi “independent assortment of genes”. Atau pengelompokan gen secara bebas. Hukum ini berlaku ketika pembentukan gamet, dimana gen sealel secara bebas pergi ke masing-masing kutub ketika meiosis. Hukum Mendel II disebut juga hukum asortasi (Kimball, 1998).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

 

4.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa :

  1. Persilangan antara normal dengan curved diperoleh F1nya normal dan ratio fenotip F2 nya adalah 3 : 1 (normal : curved) dan tipe persilangannya monohybrid
  2. Persilngan antara curly eyemising dengan normal didapatkan F1 normal dan  ratio fenotip F2 adalah 9 : 3 : 3 :1(normal : curly : eyemising : curly eyemising) dan tipe persilangannya adalah dihibrid
  3. Persilangan sephia curly dengan normal diperoleh F1 normal dan F2 dengan perbandingan 9 : 3 : 3 : 1 (normal : sephia : curly : sephia curly) dan tipe persilangannya adalah dihibrid
  4. Persilangan taxi dengan normal didapat F1 normal dan F2 dengan ratio 3 : 1 (normal : taxi) dan tipe persilangan monohib
  5. Persilangan curved eyemising dengan normal menghasilkan F1 normal dan F2 dengan perbandingan ratio 9 : 3 : 3 : 1 (normal : curved : eyemising : curved eyemising) dan tipe persilangan dihibrid
  6. Persilangan vestigialwing dengan normal didapatkan F1 normal dan ratio fenotip F2          adalah 3 : 1 (normal : vestigial)dan  dan tipe persilangan monohybrid
  7. Persilangan black dengan normal menghasilkan F1 normal dan ratio fenotip F2 3 : 1 (normal : black) dan tipe persilangan monohib
  8. Persilangan black dengan sephia diperoleh F1 normal dan perbandingan F2 adalah 9 : 3 : 3 : 1 (normal : black : sephia : black sephia) dan tipe persilangan dihibrid
  9. Persilangan vestigialwing dengan eyemising diperoleh F1 normal dan perbandingan F2 adalah 9 : 3 : 3 : 1 (normal : vestigialwing : eyemising  : vestigialwing eyemising) dan tipe persilangan dihibrid
  10. Persilangan taxi dengan sephia diperoleh F1 normal dan perbandingan F2 adalah 9 : 3 : 3 : 1 (normal : taxi : sephia  : taxi sephia) dan tipe persilangan dihibrid
  11. Pada analisa chisquare persilangan monohybrid normal dengan curved diperoleh F1 normal dan perbandingan F2 adalah 3 : 1 (normal : curved) dan Ho ditolak sedangkan persilangan dihibrid normal dengan curly eye missing diperoleh F1 normal dan perbandingan F2 adalah 9 : 3 : 3 : 1 (normal : curly : eye missing ; curly eyemissing) dan Ho diterima.
  12. Pada analisis 2 titik linkage perkawinan antara Drosophila melanogaster mutan ganda dengan Drosophila melanogaster stockman jantan menghasilkan keturunan :
  1. betina mutan ganda tubuh hitam sayap melengkung dengan jantan normal menghasilkan F1 normal dan F2 normal : tubuh hitam sayap melengkung.
  2. betina mutan ganda tubuh hitam sayap dumpy dengan jantan normal menghasilkan F1 normal dan F2 normal : tubuh hitam sayap dumpy.
  3. betina mutan ganda tubuh sephia sayap ebony dengan jantan normal menghasilkan F1 normal dan F2 normal : tubuh sephia sayap ebony.

Perbandingan ratio dari ketiga persilangan tersebut adalah 1 : 1. Hal ini diakibatkan adanya pautan gen atau gen linkage.

4.2. Saran

Diharapkan kepada praktikan untuk melakukan praktikum sesuai dengan prosedur kerja yang dijelaskan. Dalam praktikum, praktikan harus sunguh-sungguh, hati-hati dan teliti dalam melaksanakan perhitungan persilangan.

DAFTAR PUSTAKA

 

Borror, D.j., Triplehorn, C.A dan Johnson, N.F. 1993. Pengenalan Pelajaran Serangga. Gadjah Mada univ press : Yogyakarta.

Brown, T.A.. 1993. Genetics A Molecular Approach. Department of Biochemistry And Applicd Molecular, Umist, Manchester : United Kingdom.

Campbell, N.A., J.B. Reece, dan L.W. Mitchell. 2002. Biologi, edisi kelima. Penerbit

Erlangga : Jakarta.

Crowder, L.V. 1990. Genetika Tumbuhan. UGM : Yokyakarta.

Dwijoseputro. 1977. Pengantar Genetika untuk Perguruan Tinggi. Bhrata : Jakarta.

Elrod, S. dan W. Stansfield. 2007. Genetika, edisi keempat. Penerbit Erlangga : Jakarta.

Erik. 2009. Persilangan Dihibrid. Blot WordPress.com. 28 Desember 2009.

Ganawati, D. 2009.  Pewarisan Sifat. http://www. crayonpedia.org/mw/ Pewarisan Sifat .  21 Desember 2009.

Goodenough. 1984. Genetika Jilid I. Erlangga : Jakarta.

Imania, M. 2008. Pengenalan Lalat Buah Drosophila melanogaster. http://www.bloogge.com/imania. 21 Desember 2009

Kimball, J. W. 1998. Biologi Jilid 1. Erlangga : Jakarata.

Miller, C. 2000. Drosophila melanogaster. Michigan: University of Michigan. http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/accounts/information/Drosophila_melanogaster.html . 26 September 2009.

Stricberger.1985. Genetics. Macmilan Publishing Company : New York.

Suryo. 1996. Genetika. UGM Press : Yogyakarta.

Tjan, Kiauw Nio. 1995. Genetika Dasar (Diktat). Penerbit ITB : Bandung.

Yatim, wildan. 1986. Genetika. Penerbit Tarsito : Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s