Just another WordPress.com weblog

Dibuang untuk Berjuang


ImageAku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan,jika mengalir menjadi jernih, jika tidak kan keruh menggenang. Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran. Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang. Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang.  Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

 Untaian puisi Imam Syafi ini menjadi begitu populer dalam novel Negeri 5 Menara, yang  secara gamblang menggambarkan bahwa betapa pentingnya melakukan perubahan, pembaharuan, di setiap hidup dan kehidupan. Puisi ini terimplikasi disetiap relung hati dan watak salah satu  etnik masyarakat Indonesia yaitu Minangkabau.  Apakah benar dibuang? Penulis menjawab ya,harus “dibuang”! Dibuang dalam hal ini memiliki makna konotatif yang sangat dalam, di mana perjuangan dimulai ketika mereka “dibuang” untuk pergi meninggalkan tanah kelahirannya untuk merantau. Tradisi ini bagi  orang Minang terbangun dari budaya yang dinamis, egaliter, mandiri dan berjiwa merdeka.

 Dalam konsep budaya Alam Minangkabau dikenal wilayah inti (darek) dan rantau (daerah luar). Rantau secara tradisional adalah wilayah ekspansi, daerah perluasan atau daerah taklukan. Namun perkembangannya belakangan, konsep rantau dilihat sebagai sesuatu yang menjanjikan harapan untuk masa depan dan kehidupan yang lebih baik dikaitkan dengan konteks sosial ekonomi dan bukan dalam konteks politik. Berdasarkan konsep tersebut, merantau adalah untuk pengembangan diri dan mencapai kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik. Dengan demikian, tujuan merantau sering dikaitkan dengan tiga hal: mencari harta (berdagang/menjadi saudagar), mencari ilmu (belajar), atau mencari pangkat (pekerjaan/jabatan) (Navis, 1999)

 “Membuang” anak lelaki  yang berumur di kategori dewasa muda ( 20-30 tahun ) untuk berjuang mengubah hidupnya di daerah yang jauh dari tanah kelahirannya, bagi suku Minangkabau merupakan suatu tradisi bahkan sudah menjadi kewajiban.  Merantau bukanlah menjadi hal yang aneh dan asing bagi masyarakat Minangkabau terutama kaum lelakinya.   Justru akan aneh bila lelaki di Minagkabau masih sering nongkrong di lapau (kedai) di kampungnya.

 Ditinjau dari sisi kekerabatan di Minangkabau, martriakat atau matriaki  telah membentuk konsep marantau itu dengan sendirinya di setiap watak lelaki di Minangkabau. Wanita memainkan peranan dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan keputusan-keputusan yang dibuat oleh kaum lelaki dalam posisi mereka sebagai mamak (paman atau saudara dari pihak ibu), dan penghulu (kepala suku).  Segala sesuatu akan terpusat pada pihak ibu dalam hal ini wanita. Penghargaan terhadap kaum ibu atau wanita di Minangkabau bisa dlihat di Rumah Gadang ( Rumah Adat Minangkabau). Setiap ruangan atau kamar di rumah itu hanya diperuntukkan oleh kaum ibu atau wanita. Sehingga jumlah anak gadis merupakan suatu bentuk pertimbangan bagi seorang ayah di Minangkabau, dalam memulai pembangunan rumah. Dan bagaimana dengan laki-laki? Dari kecil lelaki telah dididik dan ditanamkan di benaknya,di dalam keluarga,  lelaki tidak mempunyai rumah, rumahnya  adalah mesjid atau lebih dikenal di surau. Di sana lah mereka mulai menimba ilmu dasar, seperti ilmu agama, sosial kemasyarakatan sampai dengan bela diri. Dan rumah tempat dia dibesarkan tidak bisa secara serta merta dianggap sebagai rumahnya, karena itu rumah orang tuanya atau rumah saudara perempuannya. Dengan kata lain lelaki di Minangkabau “tidak mempunyai rumah.”  Dan si Ibu pasti akan selalu berpesan :

 

Karantau madang di hulu

Babuah babungo balun

Marantau Bujang dahulu

Di kampuang baguno balun

( Kerantau madang di hulu

Berbuah berbunga belum

Merantau lah Bujang dahulu

Dikampung berguna belum)

 

 Pepatah ini merupakan suatu tantangan bagi kaum lelaki untuk membuktikan dirinya. Dia mampu atau tidak berjuang dalam hidup. Cari lah pengalaman hidup di luar tanah kelahirannya, dan ketika berhasil barulah  kembali. Mereka tidak akan pulang sebelum berhasil dan menggapai cita-citanya. Karena bagi lelaki pulang kampung tanpa membawa kesuksesan adalah tabu. Namun sebelum bermanfaat di kampungnya,suatu hal yang tak boleh dilupakan bagi kaum lelaki di Minang adalah tanggung jawab mereka terhadap anggota keluarga ibunya, seperti tanggung jawab untuk menyekolahkan adik-adik dan keponakan perempuan, sampai dengan melakukan renovasi atau pembangunan di rumah ibunya sendiri. Karena ini merupakan sebuah simbol keberhasilan mereka di dalam keluarga.

 Namun apakah para lelaki merasa dirinya dibuang? Tidak, malahan merantau merupakan suatu kebanggaan tersendiri yang membentuk daya saing yang tinggi dan wawasan yang luas. Dipadu dengan bekal pendidikan dan pengetahuan yang memadai, orang Minang  tak pernah ragu untuk hidup di manapun di muka bumi ini. Keberanian orang Minang adalah keberanian untuk hidup sehingga mucullah ungkapan “berani untuk hidup” dan bukan “berani untuk mati”.

 Bagi kaum lelaki di Minangkabau kampun halaman  adalah sebuah tempat paling teraman, namun sebelum mendapatkan kenyaman tersebut mereka harus merantau dahulu, untuk menempa dirinya. Banyak pengalaman-pengalaman luar biasa menanti di luar sana. Mereka akan berfikir bahwa keluar dari zona nyaman akan mendewasakan. Karena untuk menerima berkah yang lebih besar, terkadang kita harus melepaskan hal kecil dalam genggaman. Ketika sendiri dan harus bertahan dalam kekurangan, kita (manusia) akan berkali lipat lebih cerdas dan kreatif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s