Just another WordPress.com weblog

GUA KALILAWA INDARUNG PADANG SUMBAR


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kegiatan orientasi ni dilakukan sebagai syarat menjadi AMR ( Anggota Muda ),dan sebagai pemantapan ilmu tentang Speleologi yang pernah didapatkan pada DIKLAT SARCA XVIII. Untuk itu dilakukan aplikasi langsung ke lapangan agar lebih mengerti dan lebih tahu tentang teori yang telah diberikan.
Kawasan gua perlu dilindungi dan dilestarikan ,karena kawasan ini merupakan salah satu sumber keaneka ragaman hayati yang bernilai tinggi. Selain itu,kawasan gua juga merupakan habitat dari flora dan fauna yang endemik dan bernilai penting bagi kajian ilmu pengetahuan.
Dalam upaya turut menjaga dan melestarikan kawasan gua, saya sebagai calon Anggota KCA –LH FMIPA UNAND mengangkatkan kegiatan berupa penelusuran dan pemetaan gua Kalilawa di kanagarian Indarung,Kecamatan Lubuk Kilangan Kota Padang.
Gua ini dijaga oleh masyarakat sekitar dan kepemilikannya oleh organisasi pemuda. Namun gua ini belum dikembangkan dan kurang begitu terawat karena kurangnya kesadaran dari pengunjung untuk menjaga kebersihan di dalam goa. Hal ini terbukti dalam penelusuran ditemukan banyak sampah – sampah dan sisa – sisa makanan dari pengunjung.

1.2 Tujuan
Adapun kegiatan orientasi ini adalah : 1) Menambah pengetahuan serta melatih kecakapan Calon Anggota KCA LH FMIPA UNAND dalam kegiatan penelusuran dan pemetaan gua. 2)Sebagai wujud ikut mendukung program pemerintah dalam melaksanakan pembangunan yang berwawasan lingkungan. 3) Untuk memperoleh data yang dibutuhkan untuk konservasi lingkungan hidup. 4)Sebagai wadah untuk mewujudkan minat dan bakat di KCA-

II.TINJAUAN PUSTAKA

Caving berasal dari kata “cave”yang berarti gua, yaitu ruang bawah tanah yang dapat dimasuki orang. Berarti caving dapat diartikan sebagai kegiatan penelusuran gua yang memadukan unsur olahraga, petualangan dan ilmiah. Kesan yang ditimbulkan dari fisik gua membuat orang enggan untuk mencobanya. Namun sebenarnya banyak hal – hal positif yang dapat diambil berupa ilmu yang dinamakan dengan speleologi. Speleologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gua dan segala sesuatu yang berada di dalam gua dalam hal ini adalah ornamen gua.
Tidak ada catatan resmi kapan manusia menelusuri gua. Berdasarkan peninggalan-peninggalan, berupa sisa makanan, tulang belulang, dan juga lukisan-lukisan, dapat disimpulkan bahwa manusia sudah mengenal gua sejak ribuan tahun silam yang tersebar di benua Eropa, Afrika, dan Amerika.
Menurut catatan yang ada, penelusuran gua dimulai oleh JOHN BEAUMONT, ahli bedah dari Somerset, England (1674). la seorang ahli tambang dan geologi amatir, tercatat sebagai orang pertama yang menelusuri sumuran (potholing) sedalam 20 meter dan menemukan ruangan dengan panjang 80 meter, lebar 3 meter. Serta ketinggian plafon 10 meter, a-3, dan menggunakan penerangan Win. Menurut catatan, Beaumont merangkak sejauh 100 meter dan menemukan jurang (internal pitch). la mengikatkan tambang pada tubuhnya dan minta diulur sedalam 25 meter dan mengukur ruangan dalam gua tersebut. la melaporkan penemuan ini pada Royal Society, Lembaga Pengetahuan Inggris. Orang yang paling berjasa mendeskripsikan gua-gua antara tahun 1670-1680 adalah BARON JOHANN VALSAVOR dari Slovenia. la mengunjungi 70 gua, membuat peta, sketsa, dan melahirkan empat buku setebal 2800 halaman.( http://www.scbd.net.id/2007 ARTHAZONE)
JOSEPH NAGEL, pada tahun 1747 mendapat tugas dari istana untuk memetakan sistem perguaan di Kerajaan Austro-Hongaria. Sedangkan wisata gua pertama kali tercatat tahun 1818, ketika Kaisar Habsbrug Francis I dari Austria meninjau gua Adelsberg (sekarang bemama gua Postojna) tertetak di Yugoslavia. Kemudian wiraswastawan Josip Jersinovic mengembangkannya sebagai tempat wisata dengan memudahkan tempat itu dapat dicapai. Diberi penerangan dan pengunjung dikenai biaya masuk.
New York Times pada tahun 1881 mengkritik bahwa keindahan gua telah dirusak hanya untuk mencari keuntungan . Stephen Bishop pemandu wisata yang paling berjasa, ia budak belian yang dipekerjakan oleh Franklin Gorin seorang pengacara yang membeli tanah di sekitar gua Mammoth, Kentucky Amerika Serikat pada tahun 1838. Dan kini gua Mammoth diterima UNICEF sebagai warisan dunia.
Sedangkan di Indonesia, faktor mistik dan magis masih melekat erat di gua-gua. Baik gua sebagai tempat pemujaan, sesaji maupun bertapa. Bahkan sering dianggap sebagai tempat tinggal makhluk, namun semuanya memiliki nilai budaya, legenda, mistik, dan kepercayaan sesuatu terhadap gua perlulah didokumentasi dan dihargai sebagai potensi budaya bangsa. Maka Antropotogi juga merupakan bagian dari Speleologi.
Lahirnya Ilmu Speleologi
Secara resmi ilmu Speleologi lahir pada abad – 19 berkat ketekunan EDWARD ALFRED MARTEL. Sewaktu kecil ia sudah mengunjungi gua Hahn di Belgia dengan ayahnya seorang ahli Paleontologi, kemudian juga mengunjungi gua Pyrenee di Swiss dan Italia. Pada tahun 1858 ia mulai mengenalkan penelusuran gua dengan peralatan, pada setiap musim panas ia dan teman-temannya mengunjungi gua-gua dengan membawa dua gerobak penuh peralatan, bahan makanan dan alat fotografi. Martel membuat pakaian berkantung banyak yang sekarang disebut coverall (wearpack). Kantung itu diisi dengan peluit, batangan magnesium, 6 lilin lacsar, korek api, batu api, martil, 2 pisau, alat pengukur, thermometer, pensil, kompas, buku catatan, kotak P3K, beberapa permen coklat, sebotol rum dan sebuah telepon lapangan yang ia gendong. Sistem penyelamatannya dengan mengikatkan dirinya kalau naik atau menuruni dengan tali.(http/umay.wordpress.com)
Tahun 1889, Martel menginjakkan kakinya pada kedalaman 233 m di sumuran ranabel dekat Marzille, Perancis dan selama 45 menu tergantung di kedalaman 90 m. la mengukur ketinggian atap dengan balon dari kertas yang digantungi spon yang dibasahi alkohol, begitu spon dinyalakan balon akan naik keatas mencapai atap gua. Hingga kini EDWARD ALFRED MARTEL disebut Bapak Speleologi. Kemudian banyak ahli speleologi seperti POURNIER, JANNEL, BIRET, dan banyak lagi.
Baru sete!ah Perang Dunia I ROBERT DE JOLLY dan NOBERT CASTERET mampu mengimbangi MARTEL. Robert de Jolly mampu menciptakan peralatan gua yang terbuat dari Aluminium Alloy. Nobert Casteret orang pertama yang melakukan “Cave Diving” pada tahun 1922, dengan menyelami gua Montespan yang di dalam gua itu ditemukan patung-patung dan lukisan bison serta binatang lain dari tanah liat, yang menurut para ahli, itu sebagai acara ritual sebelum diadakan perburuan binatang, ditandai adanya bekas-bakas tombak dan panah. Namun dalam Perang Dunia II, gua-gua digunakan sebagai tempat pertahanan, karena pertahanan di gua akan sulit ditembus walaupun menggunakan born pada waktu itu. (http/umay.wordpress.com)
Jenis-jenis Gua
Berdasarkan pembentukannya gua dibedakan atas :
1. Gua Karst, yaitu gua yang mengandung kapur (CaCO3). Gua ini sangat banyak ditemukan mencapai 90% di dunia. Tanah dalam daerah Karst ini biasanya gersang, sebab air hujan yang turun langsung terserap ke dalam tanah dan membentuk aliran atau sungai di bawah tanah pada gua yang terdapat di bawahnya.
2. Gua lava, yaitu gua yang terbentuk akibat letusan gunung api. Pada gunung yang aktif, cairan magma menerobos pada rekahan yang terdapat pada gunung tersebut dan setelah magma cair ini mendingin dan menyusut mulai dari bagian luarnya. Sedangkan bagian dalamnya yang masih cair akan terus bergerak turun sehingga meninggalkan bentuk lorong-lorong gua atau bentuk lain yang sejenis.
3. Gua litoral, yaitu gua yang terbentuk akibat erosi mekanik ombak laut atau danau.

Proses Pembentukan gua
Gua karst atau batu gamping terbentuk akibat rembesan air hujan yang mengandung karbondioksida yang merembes masuk ke dalam batu gamping. Rembesan tersebut lama-kelamaan akan membentuk rongga dan akhirnya akan membentuk jaringan rumit yang disebut dengan gua. Pada sebuah gua harus diingat bahwa proses yang terjadi berlangsung secara kontinue khususnya yang dialiri air dan bisa juga yang sudah tidak dialiri air. Biasanya gua yang tidak dialiri air disebut juga dengan gua fosil. Tetapi bila terjadi runtuhan gua (cave breakdown) pada lorong fosil ini mungkin akan timbul aliran yang baru.
Hewan – hewan atau fauna yang menempati gua tegolong rumit karena dipengaruhi oleh faktor suhu, kelembaban, cahaya dan kandungan oksigen.
1. Troglophile, organisme yang dapat hidup dan mengalami daur reproduksi dalam gua, namun belum menampakkan modifikasi. Kerabatnya masih dapat dijumpai di daerah permukaan gua pada kondisi yang hampir menyerupai dengan lingkungan gua. Contoh ; ular, sijontu dll.
2. Trologxena, yaitu organisme yang masuk dalam gua hanya untuk sementara waktu saja dan terbagi 2 atas accidental trogloxena yaitu organisme yang masuk secara tidak sengaja dan umum tidak akan tinggal lama di dalam gua dan habitual trogloxena, yaitu organisme yang secara tetap mengunjungi gua sebagai salah satu bagian siklus hidupnya.
3. Troglobite yaitu organisme gua di mana seluruh siklus kehidupannya telah terikat pada lingkungan gua. Umunya ditandai dengan kemunduran dan penyederhanaan sistem penglihatan pigmentasi tubuh hingga pada tingkat fauna yang tidak bermata dan transparan tubuhnya.

III.PELAKSANAAN KEGIATAN

3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan ini dilakukan pada hari Sabtu 25 Oktober 2008, yang berlokasi di Gua Kalilawa,yang berlokasi di Kecamatan lubuk Kilangan indarung Kota Padang.

3.2 Pelaksanaan Kegiatan
Kagiatan ini dilakukan oleh Calon Anggota (CAR)08 dan beberapa anggota muda (AMR),Anggota biasa yang terdiri dari :
1. Tomi Anugrah Pratama (CAR 001-08)
2. Resalina (AMR 001-08)
3. Rizka Lona (AMR 002-08)
4. Denia Efilusi (AMR 003-08)
5. Rose Andhina (Raff 365 Hks)
6. Hendra Mustika (Raff 366 Hks)
7. Megi Septia Elta (Raff 370 Hks)
8. Widyawati (Raff 364 Rlw)

3.3 Bentuk Kegiatan
Kegiatan ini dilakukan dalam 2 tahap, yaitu penelusuran dan pemetaan gua. Pemetaan dilakukan dengan metoda leaf frog.
Dalam mengambi stasiun terdapat bebrapa kriteria yaitu :
a. Perubahan arah
b. Perubahan ekstrim bentuk lorong ( 3 dimensi )
c. Batas pengukuran (30 m )
d. Perubahan elevasi ekstrim
e. Temuan – temuan seperti ornamen khusus

3.4 Peralatan
Adapun alat – alat yang digunakan dalam kegiatan pemetaan gua Kalilawa adalah :
1. Meteran yang digunakan untuk mengukur jarak antar stasiun,lebar dan tinggi lorong.
2. Senter dan beterei digunakan sebagai alat penerangan di dalam gua.
3. Kompas digunakan untuk menentukan besar sudut terhadp arah utara 00
4. Clinometer,digunakan untuk mengukur sudut kemiringan terhadap bidang datar.
5. Helm sebagai pelindung kepala dari benturan – benturan.
6. Worksheet diguanakan sebagai media pencatat data yang diambil saat pemetaan.
7. Papan ABO sebagai alas worksheet
8. Alat tulis
9. Daypack digunakan untuk membawa perlengkapan kegiatan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Secara geografis gua ini terletak dengan topografi yang berbukit-bukit dengan bentuk dan susunan vegetasi tumbuhan yang skunder. Adapun letak gua ini adalag di daerah dataran dengan bentuk mulut gua seperti guruf V terbalik. Gua ini terletak sekitar 500 m dari jalan dan 600 m dari pemukiman masyarakat. Adapun vegetasi di sekitar mulut gua adalah tumbuhan dengan famili verbenaceae, araceae, myrtaceae dan beberapa jenis paku-pakuan.
Secara fisik gua ini merupakan gua yang berair karena di dalamnya dialiri oleh beberapa aliran ank sungai dan dengan bentuk mulut gua yang horizontal. Menurut penduduk setempat gua ini tidak pernah banjir dan memiliki kawasan tadah hujan sekitar 50 m2. Hewan – hewan yang ditemukan di dalam gua adalah kelelawar,burung wallet, dan beberapa insecta, seperti sijuntu dan laba-laba. Dan ditemukan juga beberapa jamur yang belum bisa didentifikasi namanya.
Terdapat beberapa ornamen menarik seperti staklaktit,staklagmit,flowstone,draperys dan lain-lain dan ditemukan dalam kondisi baik,namun dibeberapa sisi dinding gua telah banyak yang dicoret-coret seperti yang terdapat di sekitar mulut gua.
Adapun status kepemilikan gua ini telah diklaim sebagai milik pemuda setempat dengan nama organisasi GAMES ( Gerakan Pemuda Serumpun ) di daerah Indarung. Mereka melakukan penjagaan dan pemeliharaan dan kebersihan terhadap gua dan untuk menghindari pencurian sarang burung wallet yang terdapat dalam gua. Dalam waktu 3 minggu sekali pemuda-pemuda dalam organisasi ini mengadakan check kondisi gua untuk memastikan kondisi gua.
Jumlah stasiun yang digunakan selama pemetaan adalah 17 stasiun dengan panjang rata – rata antar stasiun adalh 5 – 10 meter. Dalam penelusuran hanya ditemukan 2 chamber dan dalam pemetaan dilakukan hanya 1 pengukuran terhadp chamber yang pertama di dekat mulut gua.Chamber ditemukan pada stasiun 3 di mana terdapat chamber yang sangat luas dengan diameter sekitar 150 meter. Dan dengan tinggi sekitar 20 meter.
Di dekat chamber terdapat tirai dan aliran anak sungai yang tidak begitu deras alirannya. Pada stasiun 6 ditemukan Flowstone yang menggantung di langit – langit gua dan disekiatnya ditemukan aliran anak sungai yang aliran tidak begitu deras. Pada stasiun 9,merupakan area yang mulai menyempit dan kita harus marayap dan di stasiun 9 ini juga ditemukan mulut gua yang menghubungkan jalur gua dengan chamber yang lain. Untuk memasuki mulut goa ini kita harus merayap sekiat 5 meter,namun karena keterbatasan waktu penelusuran dan pemetaan tidak dilakukan sampai jalur ini. Mulut gua ini menurut pemuda setempat dinamakan dengan Lubang Biawak.
Pemetaan dilakukan hanya sampai stasiun 17 di mana,area ini terdapat penyempitan jalur dan terdapat ornamen – ornamen sepeti drapery,gorden dan flowstone. Pemetaan dilakukan hanya smapi stasiun ini dikarenakan keterbatasan waktu dan penulis belum menguasai dengan baik teknik pemetaan horizontal karena area berikutnya caver harus merayap di area yang berair dengan langit – langit gua yang cukup rendah.
Pada pembuatan gambar terdapat beberapa kesalahan yang disebabkan oleh kesalahan data yang didapat di lapangan. Hal ini diperkirakan disebabkan oleh kurang ketelitian pada penulisan data – data di lapangan. Kesalahan ini terdapat pada data di stasiun 3 dalam hal ini stasiun ini merupakan area chamber. Begitu juga kesalahan terdapat pada stasiun 9,10,11 Kesalahan ini berimbas pada pembuatan gambar di peta.

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan kegiatan penelusuran dan pemetaan gua yang telah dilakukan didapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Dalam penelusuran ditemukan jalan keluar dari gua Kalilawa dengan melintasi aliran air yang cukup deras yang membentuk air terjun.
2. Gua ini memiliki tingkat kerusakan yang tidak terlalu parah hanya ditemukan coretan-coretan di dinding gua di bagian mulut gua.
3. Ornamen – ornamen yang ditemukan antara lain adalah staklaktit,staklakmit,pilar,drparies dan flowstone.

5.2 Saran

Dalam melakukan penelusuran gua hendaknya para caver harus terus mematuhi aturan dan etika ketika berada di dalam gua,meminimalkan kegiatan yang dapat menganggu kehidupan sekitar dan membahayak keselamatan caver itu sendiri dan orang yang menyertainya. Hendaknya dilakukan pelatihan yang dapat membentu kita dalam kegiatan caving.
Diperlukan ketelitian kerja dalam melakukan penelusuran maupun dalam pemetaan gua,sehingga tidak terjadi kesalahan – kesalahan pada data.

DAFTAR PUSTAKA

Anggota KCA –LH .2007. Ikhtisar DIKLAT SARCA XVIII.Padang :KCA – LH FMIPA UNAND.
AMR-07.2007.Laporan Orientasi Anggota Muda .Padang : KCA-LH FMIPA UNAND.
CAR – 003.2004.Laporan Pemantapan Calon Anggota .Padang : KCA-LH FMIPA UNAND.
CAR – 004.2003. Laporan Pemantapan Calon Anggota . Padang : KCA-LH FMIPA UNAND.
http://www.scbd.net.id/2007 ARTHAZONE.Mengukur Kemampuan Diri Lewat Caving

Lampiran
Laporan Perjalanan
Kegiatan dimulai dengan pelepasan di sekretariat KCA-LH pada pukul 08.05 dan berangkat pada pukul 08.14 WIB. Dan sampai di Pasar Baru pada pukul 08.26 dan langsung berangat ke Indarung dan sampai pada pukul 09.05 WIB. Dari simpang Indarung ke lokasi dengan menggunakan jasa ojek dan sampai di rumah Ketua RT pada pukul 09.12 untuk melapor dan memohon izin untuk pelaksanaan kegiatan caving.
Pada pukul 09.40 sampai di mulut gua dan langsung melakukan briefing. Pada pukul 10.15 melakukan penelusuran terlebih dahulu untuk memastikan sejauh mana akan dilakukan pemetaan sebagai kegiatan berikutnya. Penelusuran dilakukan oleh 1 orang CAR,3 orang AMR dan 2 orang anggota Rafflesia.
Dalam penelusuran ini kami tak jarang harus merunduk bahkan merayap di dalam sungai yang lebih dalam dari di mulut gua untuk menghindari benturan dengan langit – langit gua. Dan kebetulan pada hari kegiatan tidak ada hujan sehingga air di dalam gua tidak begitu tinggi.
Penelusuran dilakukan sampai pada chamber yang agak sedikit luas dan jalan buntu. Dan dalam rencana awal pemetaan akan dilakukan sampai ke area ini. Namun ketika tim kembali dari penelusuran, di tengah perjalan tim dihadang oleh seorang pemuda setempat yang sangat melarang adanya penelusuran gua dan telah mengklaim gua tersebut milik pemuda setempat dan telah menutupnya untuk umum. Hal ini dikarenakan oleh adanya pencurian sarang burung wallet tanpa izin. Sehingga tim terpaksa melakukan penelusuran lebih jauh ke dalam sampai tim keluar dan dari mulut gua di mana tim harus memanjat karena tanjakan yang cukup tinggi dan terjal dan akhirnya tim menemukan sumber aliran sungai dalam gua yang tidak terlalu besar dengan lebar kira-kira 3 m yang jatuh ke dalam gua berupa air terjun. Akhirnya tim bisa keluar dengan selamat dan pemuda setempat akhirnya mengizinkan penelusuran dan pemetaan berikutnya. Setelah tim memastikan kepada pemuda bahwa tidak ada pengrusakan atau pun aktivitas yang tidak wajar yang akan dilakukan tim selama penulusuran dan pemetaan berikutnya. Pada pukul 12.07 tim kembali dari penulusuran.
Setelah ISHOMA, pada pukul 13.15 tim memasuki gua kembali untuk melakukan pemetaan gua. Masuk jauh ke dalam gua,ditemukan banyak ornamen gua seperti :
1. Staklamit,kalsit yang menggantung di langit-langit gua.
2. Staklaktit,kalsit yang tumbuh di dasar gua.
3. Cauli flower,yaitu ornamen seperti bunga kol.
4. Straw,yaitu staklaktit yang baru tumbuh.
5. Flowstone
6. Gorden,staklaktit yang berbentuk seperti tirai jendela.
7. Collumn, tiang yang terbentuk karena bersatunya staklaktit dan staklakmit.
8. Draperis

Akhirnya pada pukul 15.15 tim keluar gua setelah melakukan pemetaan. Pemetaan hanya dilakukan sampai batas area yang mana mana area tersebut harus merayap dalam air.

4 responses

  1. thetom022

    OI SILAHKAN DI BACA AND DIJADIKAN REFERENSI OKE!!!!!!!???

    December 19, 2008 at 2:27 am

  2. salam kenal……
    pa skrg goa kelelawarx msh blh dmskin??
    da yg bilang udh dlrg coz…sring djdkan t4 g benar n g bisanya org2 yg msk gua trsbt buat ngejaga kbrshn n isi gua trsbt

    June 1, 2009 at 3:30 am

    • thetom022

      maaf baru rply sekarang sebenarnya masih bisa masuk koq
      cm ya perlu sosialisasi dulu dengan pemuda setempat.rasanya ga cukup komunikasi cm ma tetua desanya

      June 28, 2009 at 12:55 am

  3. lambok

    bgus ya langsung menelusur goa

    January 7, 2010 at 2:06 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s